Dr. F.Y. Khosmas, M.Si: Menabung Bagian dari Pengorbanan

cupk figur

“Apapun status anda diperlukan pengorbanan. Tidak akan ada perubahan tanpa pengorbanan. Penyerahan diri adalah pengorbanan. Keberhasilan merupakan pengorbanan,” ujar Pak Khos, nama sapaannya. Prinsip hidup tersebut yang diyakininya termasuk dalam hal menabung di Credit Union.
Khosmas, dilahirkan di kampung Angkabang, Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak, Kalimantan Barat pada 67 tahun silam. Khosmas merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara.

Menikah pada tahun 1984 dan dikaruniai empat orang anak yaitu Fransiska Yuli Lela, M.Pd, Fedrik Angga, Anasia Melia dan Lasidus Odie.
Putra Dayak ini meninggalkan kampung halamannya pada tahun 1973 pertama kali ke kota Singkawang. Kemudian tahun 1978 lanjut merantau lagi ke kota Pontianak dengan tujuan mencari pekerjaan serta melanjutkan pendidikan. Namun, mencari pekerjaan di kota ternyata tidak mudah, Khosmas pun belum mendapatkan pekerjaan yang dicarinya, akhirnya ia memutuskan untuk kuliah di Universitas Tanjungpura.
“Saya anak petani, mana mampu orang tua membiayai saya kuliah”, kenangnya. Lagi-lagi ingat prinsip hidup bahwa segala sesuatu itu perlu pengorbanan.

“Sambil kuliah saya bekerja serabutan untuk keperluan makan dan kuliah. Beberapa pekerjaan yang pernah saya lakukan seperti membersihkan halaman rumah dan kantor-kantor, mengangkat barang di pelabuhan, jaga malam, menunggu rumah orang. Tahun 1981/1982 diminta bergabung di Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih menjadi Tata Usaha dan petugas kebersihan Sekolah SMP Fransiskus Asisi di Siantan. Semua ini saya lakukan dengan tekun sambil saya terus kuliah. Tahun 1985, saya selesai kuliah dan mendapat kesempatan untuk mengajar di SMP/SMA St. Fransiskus Asisi dan SMP Suster serta mengajar di SMA St. Petrus. Tahun 1987, saya mengikuti tes untuk menjadi Dosen di Untan. Dengan bermodalkan pengalaman sebagai Asisten Dosen selama kuliah, berstatus Dosen Luar Biasa tanpa digaji, maka saya mendapat rekomendasi dari FKIP Untan untuk menjadi Dosen di sana hingga saat ini,’ kenang Khosmas.

Perjuangan hidup tersebut menimbulkan keprihatinan sekaligus mendorongnya untuk memikirkan orang-orang yang dalam kondisi ekonomi mirip dengan dirinya. Maka pada tahun 1987 Khosmas ikut serta sebagai pendiri CU Pancur Kasih dan langsung menjadi anggota nomor tujuh. Setelah itu, Khosmas juga terus mengabdikan diri sebagai penggiat atau aktivis CUPK hingga sebagai Ketua Pengurus.
Semangatnya untuk berbagi tak pernah kendor. Sampai saat ini ia tetap semangat berkontribusi untuk CUPK, anggota dan masyarakat. Selain tugas utamanya sebagai tenaga pengajar di Universitas Tanjungpura, Khosmas merelakan dirinya sebagai bagian dari Penasihat CUPK dan seringkali memberi materi pelatihan untuk berbagi dengan anggota.

Terkait dengan kebiasaan menabung, Khosmas mengakui bahwa aktivitas menabung itu juga hal yang sulit dilakukan, dengan kata lain perlu pengorbanan untuk mewujudkannya. Mengapa? Karena kata “sulit” lama tertanam dalam kepala kita.

“Seiring berjalannya waktu, mulailah saya menabung dengan uang Rp.1.000,- untuk disimpan setiap hari, ternyata cara ini tidak gampang karena saya sering lupa. Saya terus mencoba dan mencoba untuk melakukannya setiap hari, akhirnya menjadi kebiasaan. Tahun 2015, saya menaikan menjadi Rp.2.000,- per hari hingga hari ini. Kalau dulu, uang yang saya simpan setiap hari ditabung ke CU setiap tahun, sekarang saya mencoba untuk menabungnya setiap hari dalam jangka lima tahun. Ujian bagi saya, apakah mampu menjalankan atau menerapkan kata pengorbanan melalui kebiasaan sehari-hari. Puji Tuhan, hingga tanggal 7 April 2021 ini, saya tetap mampu melakukannya,” ungkap seorang Doktor yang penuh kesederhanaan ini.

Khosmas meyakini bahwa kehebatan, kemampuan atau daya berpikir kita mendapat rangsangan dengan sesuatu yang sangat kecil dan sederhana tetapi menjadi akumulasi yang luar biasa bila kita menekuninya secara serius. Menurutnya bahwa pengorbanan menjadi inspirasi sekaligus dapat membentuk kebiasaan atau kepribadian kita.

Khosmas berharap kepada para anggota agar menjadi anggota yang baik, berarti menata kehidupan untuk masa depan yang lebih baik dan menyelamatkan diri dari kesulitan ekonomi keluarga dan masyarakat. “Masa depan seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri,” Tegas Khosmas.

Penulis: Lusila Arnila

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *