CU Warisi Tradisi Bauma

jatiku

BAUMA, sebagian besar Dayak Kanayatn menyebutnya BAHUMA. Suatu kebiasaan yang sudah dilakukan oleh orang tua atau nenek moyang orang Dayak sejak zaman dulu.

Bauma dilakukan di tanah yang kering dan berbukit-bukit untuk menanam padi, sayur-sayuran, jagung, ubi, cabe, dan aneka tanaman yang dapat dipanen sebelum panen padi. Padi yang ditanam di hamparan tanah dengan luas kurang lebih 1 – 2 Ha tersebut adalah jenis padi biasa, padi pulut dan kalau ada biasanya ditanam juga jenis padi pulut hitam. Jenis sayuran yang ditanam bersama-sama padi berupa mentimun, peranggi, bayam kampung (arupm) dan sawi kampung (ansabi).

Bauma lebih di kenal masyarakat Dayak pada umumnya disebut berladang. Berladang pada tanah kering di bukit atau tanah yang agak basah. Jika berladang di tanah yang agak basah, maka jenis tanaman yang akan ditanam terbatas hanya pada jenis padi tertentu, orang Kanayatn menyebutnya padi Gente.

Bauma, biasanya dimulai dari memilih tempat atau lokasi. Lalu membuat tanda di lokasi tersebut, dalam istilah Dayak Kanayatn yaitu Ngawah, Babatak atau Barawas. Lalu, orang tua mencari mimpi, ada mimpi baik atau mimpi burukkah terkait lokasi yang akan dibuat ladang tersebut. Bila mimpinya buruk, biasanya orang mencari lokasi baru, pindah ke lahannya yang lain. Beberapa hal tersebut merupakan tata cara awal yang berlaku sebelum membuat Huma atau Ladang.

Bauma atau berladang, tidak hanya sekedar membabat hutan, kemudian menanam padi. Akan tetapi terkait juga dengan adat istiadat yang berlaku di masyarakat Dayak pada umumnya. Bauma dengan adat istiadat orang Dayak tidak dapat dipisahkan. Bauma atau Berladang sejalan dengan mempertahankan adat istiadat dan tradisi masyarakat Dayak.

Tradisi Bauma yang selalu ada adalah balalek (gotong-royong). Mulai dari aktivitas membersihkan lahan sampai proses panen selesai, dilakukan secara balalek. Secara bergilir bergotong royong di ladang satu ke ladang yang lain sampai semua pekerjaan di ladang selesai.

Akhir-akhir ini, orang Bauma sudah mulai berkurang. Kondisi ini terjadi, diantaranya karena lahan untuk berladang semakin berkurang. Banyak lahan sudah dipergunakan untuk usaha produktif berupa kebun yang dikelola secara mandiri atau perkebunan berskala besar.

Credit Union mewarisi tradisi Bauma. Di Credit Union, terdapat pilar solidaritas, yang mengandung makna bergotong royong, kebersamaan, solider, saling membantu. Anda Susah saya bantu, saya susah anda bantu.

Credit Union mengajak kita bergotong royong dan membangun kebersamaan. Mengedepankan semangat solider dalam kehidupan, Anda Susah saya bantu, saya susah anda bantu. Bersama-sama untuk meningkatkan kualitas hidup diri kita dan keluarga melalui aktivitas menabung dan menggunakan produk dan layanan yang ada di Credit Union.

Penulis: Dr. F.Y. Khosmas, M.Si.
Penasehat KSP CU Pancur Kasih
Foto: Pexels.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *